Partai Demokrat Kecewa Presiden Beri Grasi ke Putranya

Ilustrasi. Partai Demokrat Kecewa Presiden Beri Grasi ke Putranya (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Ilustrasi. Partai Demokrat Kecewa Presiden Beri Grasi ke Putranya (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Penagar.id, NASIONAL – Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden untuk memberikan grasi kepada putranya, Hunter Biden, menjelang akhir masa jabatannya memicu kritik tajam.

Tak hanya dari Partai Republik, sejumlah tokoh dari Partai Demokrat—partai yang menaungi Biden—juga mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap langkah tersebut.

Anggota parlemen dan Senator dari Partai Demokrat menilai langkah ini menetapkan preseden buruk, bahkan memperlemah kepercayaan publik terhadap sistem peradilan AS.

Hal ini terjadi di tengah upaya mereka mempertahankan integritas sistem hukum dari serangan Presiden terpilih Donald Trump, yang akan mulai menjabat tahun depan.

Baca Juga :  Malaysia Respon Konflik Thailand-Kamboja

Pada Minggu (1/12), Biden mengumumkan telah menandatangani surat pengampunan tanpa syarat untuk Hunter.

Dia beralasan bahwa putranya telah menjadi sasaran tuduhan selektif dan serangan politik yang tidak adil.

Gedung Putih, dalam pernyataan pada Senin (2/12), mendukung langkah ini. Mereka menyebut Presiden AS khawatir lawan politiknya akan terus menargetkan Hunter di masa mendatang.

Sebelumnya, Biden pernah berjanji tidak akan mencampuri proses hukum dalam dua kasus pidana yang melibatkan Hunter.

Baca Juga :  Anak Belanda Jadi yang Paling Bahagia di Dunia Versi UNICEF 2025, Ini Faktor Penentunya

Meski banyak sekutu politik Biden yang memahami alasan emosional di balik keputusan ini, mereka tetap kesulitan mendukung tindakannya.

“Sebagai seorang ayah, saya mengerti. Tapi sebagai seseorang yang ingin masyarakat kembali mempercayai layanan publik, ini adalah sebuah kemunduran,” ujar Greg Landsman, anggota Kongres AS dari Ohio, dalam pernyataannya pada Selasa (3/12), seperti dilansir Reuters.

Kontroversi ini juga muncul di tengah kekecewaan besar Partai Demokrat setelah kalah dalam Pilpres November lalu.

Baca Juga :  Zelensky Setuju Negosiasi, Perang Rusia-Ukraina Berakhir?

Kekalahan Wakil Presiden Kamala Harris dari Donald Trump sebagian dianggap sebagai akibat keputusan Biden mencalonkan diri meski ada kekhawatiran terkait usianya yang telah mencapai 82 tahun.

Trump, yang akan kembali menjabat sebagai Presiden, selama bertahun-tahun menuding sistem hukum AS digunakan sebagai senjata politik oleh Demokrat, khususnya dalam menghadapi berbagai penyelidikan terhadap dirinya.(*)

 

Baca selengkapnya di Sini


**Cek berita dan artikel terbaru di Saluran WhatsApp Penagar.id

"Kegemarannya dalam menulis membawa pria yang akrab disapa Iwan ini terjun ke dunia jurnalistik. Ia pernah menjadi wartawan di salah satu media pertama dan terbesar di Gorontalo, pengalaman yang semakin memotivasinya untuk terus menulis."