Penagar.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas setelah konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memasuki fase yang lebih berbahaya.
Di tengah situasi itu, Iran mengajukan tawaran kontroversial kepada negara-negara yang ingin melintasi Selat Hormuz, jalur laut paling vital bagi perdagangan energi dunia.
Namun tawaran tersebut disertai syarat yang tidak mudah. Iran menyatakan hanya negara yang berani mengusir Duta Besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayahnya yang akan mendapatkan akses bebas melewati selat strategis tersebut.
Pernyataan itu disampaikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui siaran televisi pemerintah Iran, IRIB. Pengumuman tersebut kemudian dilaporkan sejumlah media internasional pada Selasa (10/3/2026).
“Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya, akan memiliki kebebasan dan wewenang penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok,” kata IRGC dalam pengumumannya pada Senin (9/3/2026) malam.
Meski begitu, pertanyaan besar muncul adalah negara mana yang benar-benar berani mengambil langkah tersebut? Hingga kini belum terlihat tanda-tanda negara Arab ataupun Eropa yang bersedia mengusir perwakilan diplomatik Amerika Serikat maupun Israel.
Situasi memanas sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan itu kemudian dibalas Teheran dengan gelombang rudal dan drone yang menargetkan Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Rentetan serangan tersebut berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut yang menjadi pintu keluar utama minyak Timur Tengah itu kini mengalami gangguan serius.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur strategis yang menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia serta sebagian besar ekspor gas alam cair global.
Namun berdasarkan data perusahaan analisis energi Kpler yang mengoperasikan platform pelacakan kapal MarineTraffic, lalu lintas kapal tanker di kawasan itu turun drastis.
Dalam sepekan terakhir, aktivitas kapal dilaporkan merosot hingga 90 persen.
Ketegangan militer tersebut juga mengguncang pasar energi global. Harga minyak melonjak hingga menembus lebih dari US$100 per barel.
Selain karena gangguan distribusi di Selat Hormuz, kenaikan juga dipicu perlambatan produksi minyak di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memperingatkan Iran agar tidak menutup jalur pelayaran strategis itu.
Ia bahkan mengancam akan merespons dengan kekuatan militer yang jauh lebih besar apabila pemblokiran Selat Hormuz terus berlanjut.
Sementara itu, juru bicara IRGC Ali Mohammad Naini menegaskan Iran tidak akan memberi ruang bagi musuhnya selama konflik masih berlangsung.
Menurunnya, IRGC tidak akan mengizinkan ekspor satu liter pun minyak dari kawasan ke pihak musuh dan sekutu-sekutunya hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Iran juga menegaskan bahwa kebijakan terkait ekspor minyak di kawasan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik yang masih berlangsung.
Sumber : Kompas







