Penulis : Pormadi Simbolon (alumnus magister ilmu filsafat STF Driyarkara Jakarta, penulis buku Pemikiran Zygmunt Bauman, Kanisius 2024).
* * *
Ketika Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, dunia seakan kembali diingatkan bahwa perang belum benar-benar menjadi bagian masa lalu. Dalam sebuah esai di majalah The Economist, sejarawan Israel Yuval Noah Harari menulis bahwa konflik tersebut bukan sekadar perang regional. Menurutnya, yang dipertaruhkan adalah arah sejarah manusia dan masa depan tatanan dunia. Jika agresi militer untuk merebut wilayah kembali dianggap sah, maka norma internasional yang selama puluhan tahun menahan negara dari ekspansi imperialis dapat runtuh (The Economist, 9 Februari 2022).
Perang yang kembali merebak di berbagai kawasan lain dunia, misalnya, yang sedang belangsung perang Israel-AS melawan Iran) menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak secara otomatis menghapus kemungkinan konflik. Sejarah manusia memang menunjukkan kecenderungan mengurangi perang, tetapi masa depan dunia tetap sangat ditentukan oleh pilihan moral dan kehendak bebas para pemimpin dalam mengelola kekuasaan dan tatanan global.
Pandangan ini terasa semakin relevan ketika melihat situasi global saat ini. Perang Rusia–Ukraina terus berlanjut dengan korban yang sangat besar, sementara konflik di Timur Tengah kembali memanas. Dunia tampak bergerak menuju fase geopolitik yang lebih tegang dan tidak stabil. Pertanyaannya: apakah umat manusia sedang kembali ke era perang kekuatan besar, ataukah ini sekadar gejolak sementara dalam sejarah yang lebih panjang?
Prestasi Peradaban: Menurunnya Perang Antarnegara
Selama beberapa dekade terakhir, banyak ilmuwan sosial berpendapat bahwa dunia sebenarnya mengalami kemajuan besar dalam mengurangi perang antarnegara. Setelah Perang Dunia II, konflik antar kekuatan besar hampir tidak terjadi. Sebagian peneliti menyebut periode ini sebagai long peace.
Data historis menunjukkan bahwa dalam jangka panjang risiko kematian akibat perang memang menurun. Analisis global menunjukkan bahwa sejak pertengahan abad ke-20, tingkat kematian akibat pertempuran per kapita menurun drastis dibandingkan periode sebelumnya (humanprogress.org, 1 Maret 2023).
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mencatat tren serupa. Secara global, jumlah kematian akibat perang memang cenderung menurun sejak 1946, meskipun konflik bersenjata masih terus terjadi dalam berbagai bentuk (Dokumen PBB 75 tahun PBB, A New Era of conflict and violence, 2020).
Itu berarti perubahan ini tidak terjadi secara kebetulan. Ada beberapa faktor utama yang membuat perang antarnegara menjadi semakin tidak rasional.
Pertama, globalisasi ekonomi. Dalam dunia yang saling terhubung, negara lebih diuntungkan dari perdagangan dan investasi daripada dari penaklukan wilayah. Kekayaan modern tidak lagi terutama berasal dari tanah, tetapi dari teknologi, jaringan ekonomi, dan inovasi.
Kedua, senjata nuklir. Sejak munculnya senjata pemusnah massal, perang besar antara kekuatan besar berpotensi menghancurkan seluruh peradaban. Logika kehancuran bersama (mutually assured destruction) membuat perang skala besar menjadi pilihan yang sangat berisiko.
Ketiga, norma internasional. Setelah Perang Dunia II, dunia membangun sistem hukum internasional yang menolak agresi militer, dengan lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berupaya menjaga stabilitas global.
Namun semua pencapaian ini ternyata sangat rapuh, sementara dan dapat berubah-ubah.
Kembalinya Bayang-bayang Konflik
Dalam beberapa tahun terakhir, data menunjukkan bahwa konflik global kembali meningkat. Penelitian dari Uppsala Conflict Data Program menunjukkan bahwa jumlah konflik bersenjata di dunia mencapai tingkat tertinggi sejak Perang Dunia II (thetimes.com, 11 Juni2025)
Pada tahun 2024 saja, sekitar 160.000 orang tewas dalam kekerasan terorganisir di berbagai konflik dunia (www.uu.se, 11 Juni 2025). Bahkan dalam satu tahun terakhir, berbagai bentuk kekerasan konflik global diperkirakan menewaskan lebih dari 240.000 orang (Data ACLED/Armed Conflict Location & Event Data, 11 Desember 2025).
Perang Rusia–Ukraina sendiri telah menjadi konflik paling mematikan di Eropa sejak 1945, diperkirakan terbunuh sebanyak 500.000 jiwa (Le Monde.fr, 27 Februari 2026).
Jelas, angka-angka ini menunjukkan paradoks sejarah. Di satu sisi, dalam jangka panjang perang memang menurun. Namun dalam jangka pendek, konflik global dapat kembali meningkat secara drastis.
Fenomena ini mengingatkan kita pada pandangan klasik tentang sejarah perdaban manusia.
Apakah Sejarah Bersifat Siklus?
Dalam tradisi pemikiran Yunani-Romawi klasik (setelah abad 5 SM), sejarah sering dipahami sebagai siklus. Sejarawan Yunani Polybius (200 SM) di misalnya menggambarkan bagaimana sistem politik selalu berputar dari monarki, tirani, aristokrasi, oligarki, demokrasi, hingga akhirnya kembali ke bentuk kekuasaan yang kuat.
Berbeda dengan sejarawan klasik lannya, Thucydides (460-400 SM) dalam analisisnya tentang Perang Peloponnesos menunjukkan bahwa konflik antarnegara sering muncul dari kombinasi tiga faktor: ketakutan, kepentingan, dan kehormatan.
Jika dilihat dari perspektif ini, konflik yang terjadi hari ini bukanlah anomali. Ia adalah bagian dari dinamika kekuasaan yang selalu muncul ketika keseimbangan global berubah.
Ketika kekuatan baru bangkit dan kekuatan lama melemah, ketegangan hampir selalu meningkat. Dalam kondisi seperti itu, perang sering kali menjadi alat politik untuk mempertahankan atau mengubah tatanan dunia.
Struktur Sejarah atau Kehendak Bebas?
Namun sejarah tidak hanya ditentukan oleh struktur kekuasaan. Ia juga dipengaruhi oleh keputusan kehendak manusia, terlepas apakah keputusan itu baik atau jahat.
Ada banyak momen dalam sejarah ketika dunia berada di ambang kehancuran, tetapi berhasil dihindari karena pilihan para pemimpin. Salah satu contoh paling terkenal adalah Cuban Missile Crisis tahun 1962. Ketika dunia hampir memasuki perang nuklir, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dan pemimpin Soviet Nikita Khrushchev akhirnya memilih jalur kompromi.
Contoh lain adalah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev memilih tidak menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan kekuasaan, sehingga perubahan geopolitik besar dapat terjadi tanpa perang besar.
Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa sejarah tidak sepenuhnya deterministik. Pilihan moral atau kehendak bebas dari para pemimpin dapat mengubah arah dunia.
Dunia dalam Era Ketidakpastian
Sosiolog Zygmunt Bauman menggambarkan dunia modern sebagai liquid modernity—modernitas cair. Dalam dunia yang cair, struktur sosial dan politik menjadi semakin rapuh dan tidak stabil.
Dalam kondisi seperti itu, konflik dapat muncul dalam bentuk yang semakin kompleks: perang siber, manipulasi informasi, perang ekonomi, hingga konflik regional yang melibatkan kekuatan besar secara tidak langsung.
Perang tidak lagi hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam jaringan informasi global dan ruang digital.
Masa Depan Peradaban
Apakah umat manusia sedang menuju era perang baru?
Jawabannya mungkin tidak sesederhana ya atau tidak. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban manusia memiliki dua kecenderungan sekaligus: kemampuan untuk belajar dan membangun perdamaian, tetapi juga kecenderungan untuk mengulang konflik lama dalam bentuk baru.
Perang Rusia–Ukraina, dan perang Israel-AS vs Iran menjadi pengingat bahwa tatanan internasional tidak pernah benar-benar permanen. Ia hanya bertahan selama manusia bersedia menjaganya.
Pada akhirnya, masa depan peradaban tidak sepenuhnya ditentukan oleh hukum sejarah yang tak terelakkan. Ia juga ditentukan oleh pilihan manusia—terutama pilihan para pemimpin dan masyarakat global.
Pertanyaannya, apakah kekuasaan akan digunakan untuk dominasi, atau untuk membangun kerja sama global?
Pertanyaan ini mungkin telah diajukan sejak zaman Yunani kuno. Namun jawabannya, akan tetap menentukan arah peradaban manusia hingga hari ini.(Kemenag)







