Metode Penagihan KUR BRI Suwawa Dinilai Arogan, Rumah Dipasangi Stiker hingga Nasabah Merasa Diintimidasi

Bank BRI Cabang Gorontalo. (Foto : Iwan Mokodompis/Penagar.id)
Bank BRI Cabang Gorontalo. (Foto : Iwan Mokodompis/Penagar.id)

Penagar.id – Metode yang digunakan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Suwawa, Kabupaten Bone Bolango dalam melakukan penagihan Kredit Usaha Rakyat (KUR), dikeluhkan oleh keluarga nasabah.

Seorang warga berinisial WN (31) mengaku orangtuanya yang merupakan nasabah KUR mengalami tekanan akibat proses penagihan yang dinilai tidak lagi mengedepankan pendekatan persuasif.

Menurut WN, nasabah pelaku usaha mikro seharusnya mendapatkan perlakuan yang bijaksana, terutama ketika mengalami kendala usaha yang berdampak pada kemampuan membayar cicilan.

“Apalagi yang sedang dilakukan pengihan adalah masyarakat kecil selaku pelaku UMKM di daerah Bone bolango,” katanya kepada awak media.

Ia menjelaskan, persoalan ini berawal saat orang tuanya memperoleh fasilitas KUR dari BRI Unit Suwawa dengan nilai pinjaman Rp40 juta dan jangka waktu pengembalian selama 36 bulan.

Baca Juga :  Baru Terpilih, Presiden Sri Lanka Langsung Bubarkan Parlemen

Selama masa kredit berjalan, kata dia, keluarga tetap berusaha memenuhi kewajiban pembayaran sebagaimana yang telah disepakati dengan pihak bank.

Namun memasuki tahun 2025, penghasilan usaha yang dijalankan orang tuanya mulai mengalami penurunan sehingga berdampak pada kemampuan membayar angsuran tepat waktu.

Meski menghadapi kesulitan ekonomi, WN menegaskan bahwa keluarganya tidak pernah berniat menghindari tanggung jawab atas pinjaman tersebut. Terlebih, orang tuanya selaku nasabah telah melakukan pembayaran angsuran sebanyak 20 kali, dari total 36 kali angsuran.

Ia menyebut komunikasi dengan pihak bank tetap dilakukan guna mencari solusi atas keterlambatan pembayaran. Ia juga telah menyampaikan kepada pihak bank mengenai kondisi usaha yang dijalankan orang tuanyaa tersebut.

Baca Juga :  A.W. Talib Wafat, Tokoh Gorontalo dengan Jejak Pengabdian Panjang

“Saya juga sempat menemui pihak BRI Unit Suwawa, untuk berkomunikasi serta meyakinkan pihak bank tentang kendala yang terjadi serta komitmen untuk membayar angsuran,” ungkapnya.

Meski telah melakukan komunikasi dengan pihak bank, kata WN, metode penagihan berubah dengan cara yang dianggapnya lebih menekan dan membuat orang tuanya merasa tidak nyaman serta terbebani secara psikologis.

Tak sampai disitu, WN juga mempersoalkan pemasangan stiker bertuliskan “Nasabah ini menunggak” pada bagian depan rumah. Tindakan tersebut dinilai berdampak negatif terhadap keluarga di lingkungan tempat tinggal mereka.

“Informasi mengenai status tunggakan pinjaman seolah dimumumkan ke publik. Bagi kami, ini adalah bentuk intimidasi dan arogansi yang mempermalukan nasabah di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga :  Gelombang Protes Tambang Ilegal Berlanjut, Kapolda Gorontalo Didesak Muncul di Aksi Jilid II

Menanggapi keluhan tersebut, wartawan yang mewakili sejumlah media yang tengah menelusuri keluhan ini telah meminta konfirmasi kepada BRI Cabang Gorontalo yang membawahi operasional BRI Unit Suwawa pada Kamis (4/6/2026).

Wartawan telah berkomunikasi bahkan menemui seorang pejabat yang mengaku sebagai salah satu manajer di kantor cabang tersebut.

Sayangnya, meski komunikasi tersebut berlangsung di kantor BRI Cabang Gorontalo, manajer menyatakan tidak bersedia memberikan keterangan yang dapat dipublikasikan.

Sampai berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada pihak BRI masih terus dilakukan guna memperoleh penjelasan resmi dan menghadirkan informasi yang berimbang kepada publik.


**Cek berita dan artikel terbaru di Saluran WhatsApp Penagar.id

"Kegemarannya dalam menulis membawa pria yang akrab disapa Iwan ini terjun ke dunia jurnalistik. Ia pernah menjadi wartawan di salah satu media pertama dan terbesar di Gorontalo, pengalaman yang semakin memotivasinya untuk terus menulis."
"Penulis di Penagar.id yang menghimpun informasi untuk dijadikan sebagai berita karya tim redaksi. Ia juga bertugas menyeleksi artikel untuk ditampilkan sebagai berita utama."