Penagar.id – Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 tidak hanya menjadi ruang pertemuan bagi para petani, nelayan, dan pelaku sektor pangan dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga menjadi momentum mempererat hubungan sosial serta memperkenalkan nilai budaya masyarakat Gorontalo kepada para tamu yang datang.
Sejak rangkaian kegiatan dimulai, sejumlah kontingen dari berbagai provinsi merasakan langsung suasana hangat yang diberikan masyarakat Gorontalo.
Sambutan yang ramah, keterbukaan dalam berinteraksi, serta semangat kebersamaan menjadi pengalaman yang meninggalkan kesan bagi para peserta yang hadir di daerah ini.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang budaya menjadikan PENAS XVII bukan sekadar agenda nasional, tetapi juga ruang bertemunya beragam karakter masyarakat Indonesia.
Interaksi yang terbangun antara warga lokal dan para peserta menjadi bagian dari perjalanan sosial yang memperkuat hubungan antar daerah.
Salah satu kontingen yang merasakan hal tersebut adalah Sulawesi Barat. Tepatnya kontingen Kabupaten Mamuju yang dipimpin oleh Ketua KTNA, Muh. Padil.
Ia menyampaikan apresiasi atas sambutan dan perhatian yang diberikan berbagai pihak selama kontingen Sulawesi Barat mengikuti rangkaian kegiatan PENAS XVII di Gorontalo.
Menurutnya, suasana kekeluargaan yang dirasakan sejak kedatangan hingga mengikuti kegiatan menjadi pengalaman tersendiri bagi seluruh peserta.
“Kami mendapat pendampingan secara penuh sejak datang hingga mengikuti seluruh rangkaian kegiatan,” ujar Muh. Padil.
Ia mengatakan, keramahan masyarakat Gorontalo menjadi salah satu hal yang berkesan selama mereka berada di daerah ini.
“Semua pihak terlibat, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kelurahan, TNI, Polri, hingga media. Pelayanannya sangat baik,” lanjutnya.
Tak hanya menjalankan agenda kegiatan, ia mengatakan bahwa para peserta juga mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat serta mengenal lebih dekat kehidupan sosial dan budaya Gorontalo.
Bagi Muh. Padil, pertemuan dalam PENAS XVII memperlihatkan bagaimana keberagaman daerah di Indonesia dapat dipersatukan melalui komunikasi, kebersamaan, dan sikap saling menghargai.
“Kami merasa diterima dengan baik di Gorontalo. Masyarakatnya ramah dan suasananya sangat nyaman. Ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi kami,” katanya.
Apa yang dirasakan oleh kontingen Kabupaten Mamuju ini menjadi gambaran bagaimana sebuah kegiatan nasional dapat menghadirkan lebih dari sekadar pertukaran pengetahuan.
Sebab, di balik agenda pertanian dan kelautan, terdapat hubungan sosial yang tumbuh melalui pertemuan antar masyarakat dari berbagai wilayah.
Dari sini terlihat bahwa Gorontalo sebagai tuan rumah mampu memperlihatkan karakter daerah melalui keramahan masyarakat, budaya menyambut tamu, serta semangat gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Melalui interaksi yang terbangun selama PENAS XVII, nilai sosial budaya menjadi salah satu warisan penting yang dibawa pulang para peserta ke daerah masing-masing, memperkuat hubungan antar masyarakat di seluruh Indonesia.

