Penagar.id – Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah armada bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza dilaporkan dicegat oleh pasukan Israel di perairan internasional.
Insiden ini memicu kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk organisasi internasional dan sejumlah negara.
Global Sumud Flotilla (GSF), sebagai penyelenggara misi, menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Mereka menilai langkah Israel tidak hanya menghambat bantuan kemanusiaan, tetapi juga membahayakan keselamatan warga sipil yang terlibat dalam misi tersebut.
“Tindakan Israel menandai eskalasi yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya, penculikan warga sipil di tengah Laut Mediterania, lebih dari 600 mil (sekitar 1.000 km) dari Gaza, di hadapan seluruh dunia,” demikian rilis GSF, dikutip NPR.
Armada bantuan ini diketahui berangkat dari Barcelona dan melibatkan puluhan kapal yang membawa ratusan relawan dari berbagai negara, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Berdasarkan data pelacakan yang dirilis GSF, sebagian kapal telah dihentikan di perairan internasional sebelah barat Kreta, sementara lainnya masih melanjutkan perjalanan.
Pihak Israel tidak menyangkal telah mengamankan para penumpang kapal.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Israel menyebut sekitar 175 aktivis dari kurang lebih 20 kapal telah dibawa ke wilayah Israel.
Di antara para aktivis tersebut, terdapat warga negara Malaysia yang ikut dalam misi kemanusiaan tersebut. Kondisi ini memicu reaksi keras dari pemerintah Malaysia.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim secara terbuka mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan.
“Saya mengutuk tindakan keji rezim Zionis Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional,” kata Anwar di X.
Ia menilai tindakan tersebut bertentangan dengan hukum laut internasional dan mendesak adanya langkah cepat untuk melindungi warga negaranya yang terlibat.
“Malaysia mendesak agar semua pihak bertindak segera dan memastikan tak ada kekerasan terhadap semua para aktivis, termasuk 10 rakyat Malaysia yang kini ditahan dan putus komunikasi,” jelas Anwar.
“Keselamatan mereka harus dijamin tanpa kompromi.”
Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di kawasan, sekaligus memicu kekhawatiran global terkait keselamatan misi kemanusiaan di wilayah konflik.








