Penagar.id – TNI Angkatan Laut (TNI AL) menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya 23 prajurit Korps Marinir dalam bencana tanah longsor yang terjadi saat pelaksanaan Latihan Pratugas Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI–PNG.
Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu (24/1/2026).
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para prajurit yang gugur dalam musibah tersebut.
TNI AL menegaskan bahwa para prajurit tengah menjalankan tugas negara ketika bencana alam itu terjadi.
Berdasarkan penjelasan TNI AL, longsor di lokasi latihan dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem.
Curah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan pergerakan tanah yang tidak stabil di kawasan tersebut, sehingga menimbulkan bencana saat kegiatan latihan berlangsung.
“Hingga hari ini, Rabu (28/01), tim SAR gabungan dan para prajurit TNI AL yang berada di lokasi telah berhasil mengevakuasi 5 jenazah prajurit, sementara upaya pencarian terhadap 18 prajurit lainnya terus dilakukan secara maksimal,” ujar Kadispenal Laksamana Pertama Tunggul, Rabu (29/1/2026), melansir CNN Indonesia.
Lima prajurit yang telah ditemukan dan dievakuasi masing-masing adalah Serda Marinir Sidiq Hariyanto, Praka Marinir Muhammad Koriq, Praka Marinir Andre Nicky Olga Suwita, Praka Marinir Ari Kurniawan, dan Pratu Marinir Febry Bramantio.
Jenazah kelima prajurit tersebut telah dipulangkan ke daerah asal untuk diserahkan kepada pihak keluarga.
Proses pemakaman dilaksanakan secara militer sebagai bentuk penghormatan negara atas dedikasi dan pengabdian para prajurit yang gugur saat menjalankan tugas.
Untuk mempercepat proses pencarian, TNI AL mengerahkan sedikitnya 200 personel Marinir yang bergabung dengan berbagai unsur terkait.
Operasi SAR didukung oleh beragam peralatan, mulai dari drone, sensor thermal, unit anjing pelacak, hingga alat berat yang digunakan untuk menyisir timbunan material longsor.
“Dedikasi dan loyalitas ke-23 prajurit yang gugur dalam latihan ini merupakan wujud nyata pengorbanan tertinggi prajurit Jalasena demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengabdian mereka akan selalu terukir dalam sejarah TNI Angkatan Laut,”
TNI AL memastikan seluruh hak para prajurit yang gugur beserta keluarga akan dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
Bentuk perhatian tersebut meliputi pemberian santunan, beasiswa pendidikan bagi putra-putri korban hingga jenjang sarjana, kesempatan dan kemudahan untuk bergabung menjadi prajurit TNI/TNI AL, serta pendampingan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan.













